Berikut Ini Adalah Cerita Pengalaman Berkunjung Ke Freeport Indonesia Tembagapura Papua! Seperti Apa Kota Tembagapura itu? Baca Disini!

Pengalaman Berkunjung Ke Freeport Indonesia Tembagapura Papua!

Travel Vlog

Eh! Menginap Di Freeport Indonesia? Freeport Papua Itu? Iya, Beneran Freeport Tembagapura Papua Indonesia!? Iya kok, sudah pernah dengar tentang Kota Tembagapura kan? Kalau nama Freeport Indonesia pasti sering dong? Selengkapnya, simak website travel vlog Indonesia catperku.info ini.

Pengenalan PT Freeport Indonesia (PTFI)

Siapa yang tidak pernah mendengar tentang PT Freeport Indonesia (PTFI)?

Perusahaan ini adalah salah satu pemain besar dalam industri pertambangan di Indonesia, terutama di wilayah Papua.

PT Freeport Indonesia adalah anak perusahaan dari Freeport-McMoRan, sebuah perusahaan asal Amerika Serikat yang bergerak di bidang eksplorasi, pertambangan, pemrosesan, dan pemasaran konsentrat tembaga, emas, dan perak.

Perusahaan ini berlokasi di dataran tinggi Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

PT Freeport Indonesia (PTFI): Eksplorasi dan Pertambangan di Papua

 

Main Ke Freeport Indonesia Tembagapura Papua! [ Daily Vlog Indonesia ]
Watch this video on YouTube.
Subscribe ke Youtube Fahmi Catperku.com ya!

 

My Instagram : instagram.com/catperku
My Youtube : youtube.com/@catperku

Jejak Sejarah PT Freeport Indonesia

Bagi banyak orang, mungkin sulit membayangkan bahwa PT Freeport Indonesia telah beroperasi di Papua selama puluhan tahun.

Sejarah perusahaan ini dimulai pada awal abad ke-20, tepatnya pada tahun 1904-1905, ketika sebuah lembaga swasta dari Belanda, Koninklijke Nederlandsche Aardrijkskundig Genootschap (KNAG), yang juga dikenal sebagai Lembaga Geografi Kerajaan Belanda, menyelenggarakan sebuah ekspedisi ke Papua Barat Daya.

Tujuan utama dari ekspedisi ini adalah untuk mengunjungi Pegunungan Salju yang terkenal kabarnya ada di Tanah Papua.

Namun, catatan pertama mengenai keberadaan pegunungan salju ini berasal dari Kapten Johan Carstensz pada tahun 1623.

Saat itu, Carstensz melakukan perjalanan di perairan selatan Tanah Papua dan secara tak terduga melihat kilauan salju di pedalaman.

Dia mencatat temuannya ini dalam buku hariannya, yang menyebutkan tentang pegunungan yang “teramat tingginya” dan tertutup oleh salju.

Namun, temuan ini awalnya dianggap sebagai khayalan belaka oleh banyak orang yang merasa sulit untuk mempercayai bahwa ada salju di Tanah Papua.

Ekspedisi KNAG pertama ke Papua Barat Daya pada awal abad ke-20 mungkin tidak berhasil menemukan gunung es yang ditemukan oleh Kapten Carstensz.

Tetapi perjalanan ini menjadi awal dari minat besar Belanda terhadap wilayah Papua.

Peta wilayah Papua pertama kali dibuat sebagai hasil dari ekspedisi militer ke daerah ini pada tahun 1907 hingga 1915.

Hasrat para ilmuwan sipil untuk mendaki dan mencapai pegunungan salju ini semakin berkembang.

BACA JUGA :  Pengalaman Menggunakan Fujifilm XA5: Review Setelah 6 Bulan

Ekspedisi-Ekspedisi Terkenal

Sejumlah ekspedisi terkenal yang dipimpin oleh Belanda dilakukan dengan tujuan untuk mencapai puncak Wilhelmina (kini dikenal sebagai Puncak Sudirman) yang memiliki ketinggian mencapai 4.750 meter.

Nama-nama seperti Dr. H. A. Lorentz dan Kapten A. Franzen Henderschee menjadi terkenal dalam sejarah ekspedisi ini.

Semua ini dilakukan dengan tekad kuat untuk mencapai puncak gunung tertinggi di Tanah Papua.

Nama Dr. H. A. Lorentz bahkan diabadikan dalam nama Taman Nasional Lorentz di wilayah suku Asmat di pantai selatan.

Upaya mereka untuk mencapai puncak gunung tertinggi di Papua adalah sebuah pencapaian luar biasa yang mencerminkan tekad manusia untuk menaklukkan alam.

Jan van Gruisen dan Penemuan Ertsberg

Pada tahun 1936, Jean Jacques Dozy, seorang Belanda, menemukan cadangan Ertsberg, juga dikenal sebagai gunung bijih.

Data mengenai batuan ini kemudian dibawa ke Belanda untuk penelitian lebih lanjut.

Pada saat yang sama, Jan van Gruisen, Managing Director perusahaan Oost Maatchappij yang bergerak di bidang eksploitasi batu bara di Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara, berkenalan dengan Forbes Wilson.

Forbes Wilson pada saat itu adalah kepala eksplorasi pada perusahaan Freeport Sulphur Company yang fokus pada penambangan belerang di bawah dasar laut.

Pertemuan antara van Gruisen dan Wilson memulai langkah pertama menuju pembukaan pertambangan di Tanah Papua beberapa dekade kemudian.

Kontrak Karya Pertama (KK-I)

Pada awal periode pemerintahan Soeharto di Indonesia, pemerintah mengambil kebijakan untuk meningkatkan pembangunan ekonomi.

Meskipun sumber daya ekonomi nasional terbatas, pemerintah mengeluarkan Undang-undang Modal Asing (UU No. 1/1967) sebagai salah satu langkah strategis untuk menarik investasi asing.

Pada saat itu, Langbourne Williams, seorang pimpinan tertinggi Freeport, melihat peluang untuk melanjutkan proyek Ertsberg.

Dia bertemu dengan Julius Tahija, yang saat itu memimpin perusahaan Texaco dan melakukan pertemuan dengan Jenderal Ibnu Sutowo, yang menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Perminyakan Indonesia saat itu.

Pertemuan-pertemuan tersebut bertujuan untuk meminta izin dari pemerintah Indonesia agar Freeport dapat melanjutkan proyek Ertsberg.

Akhirnya, setelah berbagai pertemuan panjang, Freeport mendapatkan izin untuk melanjutkan proyek tersebut pada tahun 1967. Inilah awal dari Kontrak Karya Pertama (KK-I) Freeport dengan pemerintah Indonesia.

Pembangunan dan Perubahan di Tembagapura

Seiring dengan beroperasinya Freeport di wilayah Papua, terjadi perubahan besar-besaran di daerah Tembagapura.

Sebelum tahun 1967, wilayah ini hanyalah hutan belantara yang jarang dihuni.

Namun, ketika Freeport memulai operasinya, banyak penduduk mulai berpindah ke sekitar tambang, dan ini menyebabkan pertumbuhan penduduk di Timika meningkat.

Pada tahun 1970, pemerintah dan Freeport bekerja sama untuk membangun rumah-rumah layak di jalan Kamuki.

Selain itu, perumahan penduduk juga dibangun di sekitar Bandar Udara Timika, yang kini menjadi Kota Timika.

Pada tahun 1971, Freeport membangun Bandar Udara Timika dan pusat perbekalan.

Jalan-jalan utama dibangun sebagai akses ke tambang, dan jaringan jalan di daerah terpencil juga dibangun untuk menghubungkan desa-desa.

BACA JUGA :  Kereta Api Argo Parahyangan Berangkat Dari Stasiun Gambir Jakarta!

Pada tahun 1972, Presiden Soeharto memberikan nama “Tembagapura” untuk kota yang sedang berkembang ini.

Distrik Tembagapura: Pusat Pertambangan

Distrik Tembagapura adalah sebuah distrik setingkat kecamatan yang terletak di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Indonesia.

Distrik ini menjadi pusat dari operasi pertambangan PT Freeport Indonesia.

Di dalam distrik ini terdapat dua tambang utama, yaitu Tambang Ertsberg dan Tambang Grasberg.

Tambang Ertsberg dan Tambang Grasberg

Tambang Ertsberg, yang aktif hingga awal tahun 1990-an, dan Tambang Grasberg, yang mulai beroperasi pada tahun 1988 dan masih berjalan hingga saat ini, adalah dua tambang utama yang berlokasi di Distrik Tembagapura.

Tambang Grasberg, terletak di Gunung Zaagkam, adalah tambang dengan cadangan tembaga terbesar ketiga di dunia dan cadangan emas terbesar di dunia. Kedua tambang ini dioperasikan oleh PT. Freeport Indonesia.

Ertsberg sendiri dalam bahasa Amungkal disebut sebagai Yelsegel-Ongopsegel, dan Grasberg aslinya bernama Wangmabuk, yang artinya “bukit rumput” dalam bahasa Amungkal.

Tanah di sekitar kedua tambang ini adalah milik beberapa marga Amungme, seperti Omabak, Natkime, Beanal, Jamang, dan Magal.

Gunung Puncak Jaya: Batas Utara Amungsa

Gunung Puncak Jaya, yang dalam bahasa Amungkal disebut Nemangkawi Ninggok, adalah batas utara Amungsa dan Distrik Tembagapura.

Gunung ini juga dikenal dengan nama Carstensz Pyramid dalam bahasa Inggris. Bagi masyarakat Amungme, gunung-gunung seperti Nemangkawi, Yelsegel-Ongopsegel, dan Wangmabuk memiliki makna khusus sebagai tempat peristirahatan arwah leluhur yang dihormati.

Pada awalnya, masyarakat Amungme dengan senang hati memandu orang asing yang ingin mengenal tempat-tempat ini dengan itikad baik.

Namun, ketika mereka menyadari maksud dari pembukaan tambang Ertsberg pada tahun 1960-an, mereka memasang palang-palang larangan.

Sayangnya, upaya mereka tidak dapat menghentikan alat berat PT Freeport Indonesia dan dukungan militer yang terus maju, sehingga masyarakat Amungme tidak dapat melawan.

Pembangunan Infrastruktur dan Fasilitas di Tembagapura

Kehadiran PT Freeport Indonesia di Tembagapura membawa perubahan signifikan dalam infrastruktur dan fasilitas di daerah ini.

Walaupun terletak di lokasi yang terpencil, Tembagapura memiliki fasilitas yang relatif lengkap, mirip dengan kota kecil di Amerika Serikat.

Beberapa fasilitas yang ada di Tembagapura antara lain rumah sakit, pasar swalayan modern, pusat perbelanjaan, gelanggang olahraga, perpustakaan, kantor pos, kafe, salon, penerangan jalan, dan transportasi umum dalam kota.

Karyawan PT Freeport Indonesia dapat bergabung dengan klub pendaki Ndugudugu, yang sesekali melakukan ekspedisi ke Gunung Nemangkawi dan gunung-gunung lain di sekitar Grasberg.

Klub ini menjalani latihan dengan standar kebugaran dan keamanan yang ketat, sesuai dengan standar kesehatan dan keselamatan kerja PT Freeport Indonesia.

Mt Zaagkam International School (MZS)

Di MP68, terdapat Mt Zaagkam International School (MZS), yang merupakan sekolah internasional yang paling terpencil di dunia.

Sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak Warga Negara Asing (WNA) yang bekerja di daerah ini.

BACA JUGA :  Jalan - Jalan Malam Hari Di Kota Lingshui! [Wisata Hainan]

Sedangkan anak-anak Warga Negara Indonesia (WNI) bersekolah di SD dan SMP Yayasan Pendidikan Jayawijaya (YPJ) Tembagapura di MP68.

Film “Denias, Senandung Di Atas Awan” menceritakan kisah di sekitar YPJ Tembagapura.

Pengembangan Pertanian Kopi

PT Freeport Indonesia juga berkontribusi dalam pengembangan pertanian di Distrik Tembagapura.

Sejak tahun 1995, Departemen Social and Local Development PT Freeport memperkenalkan budidaya kopi kepada petani Amungme.

Saat ini, Amungme Coffee, yang diproduksi oleh para petani setempat, dapat ditemukan di berbagai acara PT Freeport.

Kopi ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat di Distrik Tembagapura, jika suatu saat PT Freeport menghentikan operasinya karena habisnya Kontrak Karya atau alasan lainnya.

Militerisasi di Distrik Tembagapura

Tentu saja, keberadaan Ertsberg dan Grasberg sebagai aset negara di Distrik Tembagapura telah membuat daerah ini menjadi salah satu yang paling termiliterisasi di seluruh Indonesia.

Militerisasi ini juga dilakukan untuk mengantisipasi serangan dari Kelompok Kriminal Bersenjata, yang sering kali melakukan penembakan, penculikan, dan sabotase terhadap operasi PT Freeport Indonesia.

Kesimpulan

PT Freeport Indonesia (PTFI) telah menjadi bagian integral dari sejarah dan perkembangan wilayah Tembagapura di Papua.

Dengan investasi besar dalam infrastruktur dan fasilitas, serta kontribusi dalam pengembangan pertanian, perusahaan ini telah memiliki peran yang signifikan dalam transformasi daerah ini.

Meskipun banyak kontroversi dan tantangan yang melingkupi operasinya, tidak dapat dipungkiri bahwa PT Freeport Indonesia juga telah memberikan dampak positif dalam bentuk lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, dan dukungan sosial kepada masyarakat setempat.

Sejarah panjang PT Freeport Indonesia mencerminkan ketahanan dan kemampuan perusahaan dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan operasionalnya.

Dengan perubahan regulasi dan dinamika politik di Indonesia, PT Freeport Indonesia terus berupaya untuk berkontribusi pada perkembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Meskipun masih ada berbagai isu terkait lingkungan dan sosial yang menjadi perhatian, seperti dampak pertambangan terhadap lingkungan alam dan masalah-masalah terkait hak asasi manusia, PT Freeport Indonesia terus berusaha untuk memenuhi tanggung jawab sosialnya dan berperan sebagai pemain utama dalam industri pertambangan di Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perusahaan ini telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Papua, terutama di wilayah Tembagapura.

Dengan memperkenalkan fasilitas modern, pendidikan internasional, dan upaya pengembangan pertanian, PT Freeport Indonesia telah mencoba untuk menciptakan dampak positif yang berkelanjutan dalam komunitas lokal.

Namun, sementara perusahaan ini terus tumbuh dan berkembang, penting untuk terus mengawasi dan mengevaluasi dampak sosial dan lingkungan dari operasinya.

Partisipasi masyarakat lokal dan kerja sama dengan pemerintah serta organisasi non-pemerintah sangatlah penting untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di wilayah ini.

Pada akhirnya, cerita PT Freeport Indonesia adalah cerita tentang pertumbuhan ekonomi, tantangan lingkungan, dan interaksi antara perusahaan pertambangan besar dengan masyarakat setempat di wilayah yang berharga ini.

Dengan tetap berfokus pada pembangunan berkelanjutan dan tanggung jawab sosialnya, PT Freeport Indonesia akan terus menjadi aktor penting dalam lanskap pertambangan Indonesia dan berkontribusi pada masa depan yang lebih baik bagi Papua dan Indonesia secara keseluruhan.


Fahmi

Fahmi adalah kontributor sekaligus penulis catperku.com, Travel Blogger dari Indonesia, Travel Vlogger Indonesia juga. Dulunya mas-mas kantoran, tapi sekarang berjuang menjadi pekerja lepas demi kebebasan memilih waktu liburan. Suka liburan ke Pantai tapi jarang nyebur, hobi trekking karena demen jalan kaki. Suka traveling di Indonesia, tapi juga nggak nolak kalau ada kesempatan liburan ke luar negeri. Travel Blogger Indonesia yang bermimpi buat keliling dunia, traveling jalur darat Asia-Eropa, Naik kereta api lewat Trans-Siberia, lalu menghabiskan masa pensiun di desa kampung halamannya. Nggak banyak kan mimpi saya? Anyway, kalau tertarik membantu mewujudkan mimpi saya, bisa hubungi di [email protected] ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *